Tenang, bersahaja, cerdik, dan inovatif. Barangkali sifat-sifat itu yang paling pasti disebutkan seseorang tatkala ia membicarakan tentang Chen Fuxiong.
Beliau adalah seorang anak angkat yang dinikahkan dengan anak kandung keluarga besar Chen Wuyi yang tidak memiliki anak lelaki. Setelah menikah, ia mengganti marganya menjadi Chen dan diberikan nama Fuxiong. Fuxiong tidak menyia-nyiakan berkah yang ia terima ketika ia menjadi suami dari pewaris kekayaan keluarga Chen yang tinggal di Ping Yuan. Fuxiong mempelajari beberapa buku seperti geografi, navigasi dan ia cukup suka berburu dengan menggunakan senjata panah.
Ia dengan kakek dari Zhang Fei Yide memiliki ikatan persahabatan yang cukup erat sehingga ketika mendengar cucu dari sahabatnya itu terkatung-katung nasibnya di Chang Ban, ia terpikir untuk mempersiapkan bantuan bagi sahabatnya. Namun sayangnya ia tidak mengerti militerisme dan ilmu perang karena yang dipelajarinya selama ini adalah demi kepentingan bisnis.
Demikian pula dengan putra-putranya, Chen Yuan, Chen Qiong dan Chen Ming.
Chen Yuan adalah petani yang memiliki naluri bisnis tidak kalah dengan ayahnya. Ia bisa tampil pragmatik dengan wajah seperti orang kelelahan karena terlalu banyak membaca buku, namun tidak ada yang menyangka manipulasi apa yang sedang dipersiapkannya.
Ketika Zhang Jingai kabur dari kediaman ayahnya, Zhang Fei, ia teringat akan teman ayahnya di Ping Yuan dari keluarga Chen dan menghampirinya. Mengetahui apa yang menimpa Zhang Jingai, Chen Fuxiong pun tidak berpikir panjang segera memikirkan cara untuk menolongnya.
Chen Yuan diam saja tanpa mengeluarkan satu opinipun. Dirinya malah sibuk membaca buku tentang filosofi musiman yang diamati oleh seorang penyair lokal yang namanya tidak terlalu terkenal.
Sementara itu Chen Qiong sangat berantusias karena dirinya menganggap bahwa ini kesempatan emas untuk berlaga di medan perang. Chen Qiong sangat bermimpi untuk bisa menjadi jendral besar yang bertarung di sisi Lu Bu, seorang bandit lokal yang tinggal di sekitar Xia Pi, tidak jauh dari Ping Yuan. Bagi orang-orang, Lu Bu adalah bandit, namun bagi Chen Qiong, Lu Bu lebih dari seorang pahlawan.
Jendral di bawah kekuasaan Yuan Shao itu sudah lama ingin berontak lepas dari pengaruh Yuan Shao yang menurutnya sangat selektif dalam memilih orang kepercayaan. Bahkan setelah menjadi Jendral pun dirinya tidak diberi posisi yang lebih penting dari sekadar Jendral pengurus distribusi jalur ransum. Betapa gatalnya Chen Qiong untuk mendemonstrasikan bakat yang ia percaya dimilikinya.
Namun rupanya Chen Qiong terlalu bersemangat mengutarakan pendapatnya sehingga justru ia mengatur segala hal, mulai dari merekrut pasukan, memilih orang berbakat, bahkan cara-cara latihan khusus bagi pasukan mereka.
Mengetahui putera keduanya hanya memikirkan perang tanpa memikirkan sedikitpun tentang nasib rakyat dalam efeknya bila perang berkepanjangan, Chen Fuxiong menjadi kesal dan membentaknya, "Jangan mentang-mentang karena kau kita bisa berdiri sendiri dari pengaruh Yuan Shao, lantas aku membiarkanmu mengacak-acak semuanya! Kau masih harus belajar lebih banyak lagi, bodoh!"
Saat itu Chen Fuxiong sedang dalam perasaan kesal karena putera sulungnya, Chen Yuan, pergi berpisah dengan keluarga besarnya karena tidak mau ikut-ikutan dengan apa yang ia sebut dengan "aksi meminta dibantai" yang dilakukan secara bodoh oleh Chen Qiong. Ia tidak mengerti bahwa yang dikatakannya sungguh membuat Chen Qiong merasa tersinggung bukan main. Terlebih saat urusan administrasi diserahkan pada Chen Ming, adik bungsunya yang selama ini dinilainya sangat tidak becus melakukan apapun.
Keadaan ini akhirnya dimanfaatkan oleh Lu Bu yang telah mendengar sedikit banyak tentang Chen Qiong dari Chen Gong, salah seorang penasihat utamanya. Si bandit pun tertarik untuk memanggil Chen Qiong agar berpaling padanya. Utusan didatangkan dan Chen Qiong tanpa banyak berpikir lagi segera mengemasi barangnya untuk pindah ke Xia Pi.
Chen Qiong mengajak serta anaknya, Chen Yang dan Chen Liu. Namun Chen Yang tidak menyukai Lu Bu karena takut akan cerita-cerita mengenai kekejamannya, sementara Chen Liu malah membujuk agar ayahnya tidak mengkhianati kakeknya.
"Kalian anak-anak bodoh! Aku tidak mengerti dengan jalan pikiran kalian. Semoga kalian tidak mati terbantai oleh pasukan Yuan Shao, bila kita suatu saat bertemu di medan perang, jangan ragu untuk mengacungkan senjatamu, dalam lapangan perang, tidak ada ikatan apapun antara dua musuh." ucap Chen Qiong dengan kesalnya.
Sementara itu, Chen Ming yang sesungguhnya sangat ketakutan, jadi tidak bisa tidur selama tiga hari karena ia telah mendengar bahwa dalam waktu dekat, Yuan Shao akan membawa 20.000 orang pasukannya untuk menyerang Ping Yuan.
"Aku tidak pernah mengharapkan ini semua. Aku hanya ingin hidup sebagai rakyat biasa yang tidak perlu pusing akan urusan politik ataupun perang! Tapi ayahku sudah cukup kecewa atas kepergian Yuan dan Qiong, kalau aku pergi juga, aku takut terkena karma buruk..." demikian pikir Chen Ming dalam rasa takut dan cemas.
Melihat garis hitam di bawah mata ayahnya dan betapa lesu wajah ayahnya, seakan beliau telah menua sepuluh tahun hanya dalam waktu tiga hari saja, Chen Wan, putra sulung Chen Ming akhirnya mengajaknya bicara.
"Saya melihat ada ember yang sudah penuh oleh air. Saya khawatir bila ia meluap, maka akan mengotori lantai dan membuat sekitarnya jadi berantakan." kata Chen Wan.
"Jangan bicara puitis padaku, mentang-mentang kau penyair seperti ibumu. Aku tidak mengerti. Lebih baik kau mengobrol dengan bulan saja." kata Chen Ming sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Baiklah." Chen Wan menghela nafas. "Ayah tidak tidur tiga hari ini, posisi ayah cukup penting, anakmu ini sudah tiga puluh tahun lebih usianya, dan sekiranya sudah cukup pantas untuk dipercaya kata-kata dan kebijaksanaannya."
Namun lagi-lagi relasi buruk akibat emosi antara ayah-anak kembali terjadi dalam keluarga Chen. Chen Ming yang sedang pusing menghardik anaknya. "Halah kau hanya penyair gagal. Bila ayah dan kakekmu bukan dari keluarga kaya, kau sudah tentu makan cacing dan minum air cucian setiap hari. Justru karena kau sudah tiga puluh tahun lebih tapi belum berkeluarga dan bekerja tetap, aku tidak mau mendengar ucapanmu! Siapa ibu dari anakmu pun kau tidak tahu, sungguh memalukan."
Tersinggung atas ucapan ayahnya, Chen Wan hanya berlalu pergi begitu saja dari ruang kerja ayahnya di istana.
Kejadian itu terdengar oleh Zhang Jingai. Ia telah mendengar sedikit banyak tentang Chen Wan. Lelaki itu bukanlah lelaki yang teratur dan hidup seperti orang biasa. Orang menyebutnya pemalas, tidak berguna, seenaknya, dan tidak memiliki masa depan. Namun ada perasaan kuat yang barangkali timbul dari kesan pertama kala mereka berkenalan, Zhang Jingai yakin bahwa Chen Wan tidak seperti yang dikatakan keluarga besarnya terhadapnya selama ini.
Di tepian danau, Zhang Jingai mengintip Chen Wan sedang mencorat-coret sesuatu dari balik pohon. Apa yang kira-kira sedang ditulisnya? Apakah ia sedang mengungkapkan rasa tersinggungnya melalui karya tulis? Puisi? Baiklah bila ia memang tidak berdaya melakukan apapun selain puisi, Zhang Jingai ingin menghibur paman ini dengan memuji karyanya.
"Paman Chen?" tegurnya dengan halus.
Chen Wan dengan sigap menoleh ke sumber suara. Ketika dilihatnya sang pemimpin Ping Yuan yang menghampirinya, ia segera menundukkan kepala dan mengangkat kedua tangannya untuk memberi hormat. "Salam, Nona Zhang. Bukankah ini sore hari yang buruk untuk berjalan-jalan santai? Maksudku dengan ancaman dari Nan Pi yang akan segera tiba dalam waktu dekat."
"Aku sudah cukup banyak membuang waktuku untuk memikirkan hal itu, bukankah ember yang hampir penuh butuh tadah tambahan agar tidak mengotori lantai di sekitarnya?" tanya Zhang Jingai.
Mendengar itu, kedua pipi Chen Wan bersemu merah dan tengkuknya menghangat. Ada sebuah celetuk tawa kecil yang dikeluarkan seakan ia ingin melegakan diri. "Ah ... maaf anda harus mendengar percakapan itu."
"Paman Wan, kau sedang menulis apa?"
"Ini hanya coret-coretan tidak berarti. Barangkali ketika saatnya ia dilihat, semua sudah terlambat." kata Chen Wan sambil menampilkan ironi yang dirasakannya melalui ekspresi wajahnya. Ia menyembunyikan kedua tangannya yang sedang memegang catatan itu di balik punggungnya.
"Maka dari itu, aku ingin melihatnya." kata Zhang Jingai sekali lagi dengan sopan.
Chen Wan pun menyerahkan kertas itu.
Zhang Jingai berharap akan menemukan rangkaian kata yang tersusun indah dalam beberapa pragraf. Ia berharap akan melihat setumpuk kosa kata cerdas dan puitis yang mampu menyentuh hati mereka yang sensitif dan bisa menghargai karya seni.
Namun ia menemukan sebuah rancangan. Desain. Lebih dari itu ... strategi perang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar