Jumat, 09 September 2011

Chapter 2 : The Underdog

Makan siang diantara keluarga Chen pada hari itu terdengar begitu serius. Putra Chen Yuan, Chen Hong dan Chen Bao yang tidak mengikuti ayahnya karena tidak mau meninggalkan bisnis yang baru saja mereka mulai di Ping Yuan itu sibuk menggosipkan kabar mengejutkan yang baru mereka terima tadi pagi.

"Mengangkat Wan menjadi Jendral perang atas 6000 pasukan? Mau dibawa hancur tempat ini, rupanya." Chen Bao menggeleng-gelengkan kepalanya, tidak habis pikir bagaimana mungkin bocah yang semasa kecilnya banyak bicara namun tidak bisa melakukan apapun itu mendadak dijadikan jendral perang pasukan vanguard untuk menghadapi serangan Yuan Shao yang akan datang beberapa hari lagi.

"Wan itu kebanyakan berkhayal. Usianya sudah tiga puluh tahun lebih tapi jiwanya tidak lebih dewasa daripada Shan." Chen Hong menyebut putra sulungnya yang akan berusia 15 tahun bulan depan.

Chen Bao tertawa kecil. "Benar. Dia cuma suka corat coret, dia bilang demi seni. Halah .. tulisannya juga tidak jelas sedang bercerita apa. Pertama dia membicarakan awan, berikutnya dia membicarakan kambing. Dan dia berani menyebut diri seniman."

Walau demikian, tak ada dari kedua bersaudara itu yang berniat untuk protes langsung pada Nona Zhang.

"Sudah, biarkan sajalah. Ada baiknya kita persiapkan beberapa upeti untuk Yuan Shao sehingga nanti bila Ping Yuan sudah jatuh ke tangannya, bisnis kita tetap aman. Lagipula aku tidak pernah berniat dengan urusan peperangan ini. Aku bahkan tidak mengerti apa untungnya berperang." ucap Chen Hong.

Lain dengan kedua Chen bersaudara anak Chen Yuan, kedua putera Chen Qiong juga sedang membicarakan masalah yang sama. Kali ini kedua bersaudara itu sedang memancing di tepi sungai.

"Biar kupersingkat. Berarti Wan mendapatkan jabatan pasukan vanguard dan taktiknya dipakai untuk peperangan menghadapi Yuan Shao, sedangkan kau hanya menjadi kapten di bawah kepemimpinannya?" Chen Yang tampak tidak percaya pada apa yang baru saja ia simpulkan sendiri.

Segurat optimisme yang terkesan pahit terulas di wajah Chen Liu. "Bukan begitu, aku jendralnya, dia yang jadi penasihatku."

Mengetahui posisi adiknya lebih berwenang daripada saudara sepupu mereka, Chen Yang mengangguk-angguk dengan wajah senang. "Cukup masuk akal, tapi juga masih ada yang tidak masuk akal."

"Apa itu?"

"Setahuku Wan itu bodoh. Dia bahkan tidak tahu ada orang bernama Sun Bin hidup di dunia ini. Bukankah sehari-hari ketika kita sibuk berlatih dan belajar, dia sibuk mabuk dan bermain-main menghabiskan uang ayahnya? Bagaimana mungkin Nona Zhang mempercayai orang seperti itu?" Chen Yang kini merasa khawatir.

"Kakak tak usah bingung. Nona Zhang bermaksud untuk membuat Wan terlihat berguna sedikit. Maka dari itu ia mengangkatnya menjadi penasihat pasukan vanguard di bawah komandoku." Chen Liu tertawa.

"Kudengar Rui sudah protes?"

"Pendapatnya sama sekali tidak didengar Nona Zhang. Aku mulai merasa ayah mengambil langkah tepat..."

Chen Yang tidak sependapat. "Jadi maksudmu menjadi anak buah seorang bandit tak tahu diri lebih tepat daripada menjadi anak buah seorang gadis 17 tahun yang kabur dari rumah ayahnya?"

"Nona Zhang itu tegas." Bela Chen Liu dengan suara agak pelan.

"Yah, kita lihat saja besok. Mungkin malam ini kita minum-minum saja, dik. Aku tidak yakin akan nasibmu di kemudian hari hahaha..." Chen Yang tertawa keras.

"Hei! Aku ini bukan jendral sembarangan! Tak mungkin aku tewas dalam perang!"

Lain bagi anak-anak Chen Yuan dan Chen Qiong, Chen Ming malam itu menghampiri putranya dan menegurnya untuk mundur demi keselamatan pasukan mereka.

"Maaf, saya tidak mendapati ada alasan logis tentang harus mundur dari jabatan itu hanya karena saya seorang penyair." Chen Wan menggeleng, berusaha menyampaikan sanggahannya dengan tegar.

Chen Ming bersama istrinya, Liu Yuen, masih bersikeras menegur putra mereka. "Wan, bagaimana mungkin seorang pria yang sudah cukup dewasa namun masih hidup dibiayai kedua orangtuanya sendiri, mampu memimpin 6000 orang pasukan menghadapi jendral besar seperti Yuan Shao?!"

Walau sang ibu memiliki visi lain dari bujukannya, "Nak, jangan berperang, apa kamu sanggup? Nanti kamu bisa dipenggal musuh bila kamu sampai tertangkap."

Tertekan dengan ketidakpercayaan kedua orangtuanya, Chen Wan marah dan menghunus pedang, membelah sebuah kursi. "Sejak aku kecil kalian selalu melakukan segala hal untukku! Menyatakan bahwa aku takkan bisa melakukan ini, takut aku salah melakukan itu! Tidak hanya itu, kalian melarangku belajar bela diri atau masuk militer karena sangsi bahwa dalam darahku tidak mengalir darah prajurit gagah seperti paman Qiong! Kalian juga melarangku terlibat politik dan memaksaku menjadi orang biasa! Apa bila sampai ada sesuatu yang kalian wariskan padaku, itu hanyalah sakit hati dan pengekangan!"

Chen Wan melempar pedangnya ke atas lantai dan mengemasi barang-barangnya. Ia masuk ke dalam kamar puteranya, Chen Shao. Awalnya ia hanya bermaksud mengintip puteranya, ia yakin dia sedang tidur. Namun dilihatnya bocah itu sedang berdiri di ambang pintu. Rupanya sejak tadi ia sedang terdiam menyaksikan keributan di ruang tengah.

"Maaf kau harus melihat itu." Chen Wan menggaruk-garukan pelipisnya dengan rasa malu. Kemudian ia berjongkok di hadapan anak tunggalnya yang baru saja berulang tahun ke tiga belas beberapa bulan lalu.

"Lekas kemasi barang-barangmu, kau akan ikut ayah pergi." perintah Chen Wan. Ia tidak mungkin mau menyerahkan anaknya dibesarkan oleh dua orang yang membesarkannya dengan cara memaksanya menjadi orang biasa, sementara ia ingin melakukan banyak hal yang luar biasa. Chen Wan pada dasarnya adalah anak yang patuh dan hatinya cenderung plin-plan. Ia hanya menuruti segala yang difilosofikan ayah padanya. Beranjak dewasa, ia mulai menyadari bahwa sesungguhnya dia bisa meraih banyak hal. Seharusnya ia bisa menjadi siapapun yang ia inginkan.

"Wan, kau hanya orang biasa. Ingat itu." demikian nasihat ayah padanya, selalu.


Sementara Chen Wan yakin bahwa dirinya manusia hebat, ia juga percaya putranya jauh lebih istimewa daripada dirinya sendiri. Ia takkan mau potensi anaknya menguap hanya karena dididik sebagai orang biasa.

Ketika Chen Shao mengemasi barang-barang daruratnya saja. Ia meninggalkan semua pernak-pernik, mainan, dan patung-patung yang ia sukai. Ia hanya membawa beberapa setel pakaian dan uang. Ayah dan anak itu kadang suka sekali berplesir memanjat ke puncak gunung hanya untuk menikmati keindahan matahari terbit. Tapi tentu saja, keberangkatan mereka akan menemui kegagalan apabila sampai Chen Ming tahu.

"Nak, jangan memanjat gunung. Nanti kamu jatuh dan mati di jurang, kita semua tidak ada yang tahu dan harus membuang waktu mencari mayatmu. Tidakkah kau pikirkan perasaan kedua orangtuamu?" demikian keluh Chen Ming dengan wajah susah setiap kali Chen Wan hendak memanjat gunung atau pergi berkuda untuk melihat daerah baru.


Chen Wan baru mulai memberontak melawan perintah ayahnya sejak ia berusia 23 tahun. Ketika itu ia telah menjadi seorang yang benar-benar kehilangan semangat hidup. Hanya tinggal di rumah, menghirup teh, bermain musik dan menulis sajak. Tidak berguna. Ia menuruti setiap perintah ayahnya, namun pada akhirnya tetap saja mereka menyebutnya anak tidak berbakti.

Melihat Chen Wan dan puteranya menggedong buntalan di punggung mereka dan bersiap pergi, Liu Yuen, sang ibu menjadi panik dan menangis, sibuk berusaha membujuk agar puteranya tidak pergi.

"Jangan kau pergi! Memangnya kau bisa hidup sendirian di luar sana? Di luar sana ada banyak bandit, maling dan rampok! Bagaimana bila kau dirampok dan dibunuh? Apakah kau tidak pernah memikirkan perasaan kedua orangtuamu dari tindakan yang kau lakukan?" tegur Chen Ming.

"Tidak, kali ini aku harus pergi. Aku tidak bisa tinggal satu atap dengan kalian." kata Chen Wan dengan wajah pedih yang tegar.

Mendadak terdengar suara lengkingan menggelegar. "Brengsek! Apa yang kau lakukan sekarang ini ha?"

Itu adalah Chen Rui, adik Chen Wan. Ia adalah seorang pelajar muda yang saat ini telah bekerja di bengkel pusat persenjataan atas rekomendasi kakek mereka, Chen Fuxiong. Prestasinya belum terlihat sekarang, namun orang ini sangat tekun dan rajin. Tentunya ia juga menuntut orang lain menjadi sama tekun dan rajin seperti dirinya.

"Kenapa kau selalu membuat kedua orangtuamu susah!? Kau ini sungguh anak tidak berbakti, hanya bisa merepotkan! Parasit! Belum puas sudah membuat kami sekeluarga malu atas perbuatanmu? Belum lagi anak itu!" Chen Rui menunjuk keponakannya.

"Bukan aku yang melahirkan dia, kok, kenapa aku harus malu?" Chen Wan masih sempat bergurau dengan wajah serius.

"Bangsat kau, pergi dari rumah ini!! Bikin malu saja!" bentaknya dengan gagah.

Chen Wan merasa sangat senang. Tanpa bicara lagi, ia buru-buru pergi meninggalkan rumah ayahnya diikuti anaknya, Shao.

"Ayah, sekarang kita tinggal dimana?" tanya Chen Shao.

Senyum gagah terlihat di wajah Chen Wan yang pipinya berlesung. Ia mengusap kepala anaknya seraya berkata, "Kita ini lelaki bebas, Shao. Langit adalah atap kita, dan bumi adalah peraduan kita."

Chapter 1 : Defection and Loyalty

Tenang, bersahaja, cerdik, dan inovatif. Barangkali sifat-sifat itu yang paling pasti disebutkan seseorang tatkala ia membicarakan tentang Chen Fuxiong.

Beliau adalah seorang anak angkat yang dinikahkan dengan anak kandung keluarga besar Chen Wuyi yang tidak memiliki anak lelaki. Setelah menikah, ia mengganti marganya menjadi Chen dan diberikan nama Fuxiong. Fuxiong tidak menyia-nyiakan berkah yang ia terima ketika ia menjadi suami dari pewaris kekayaan keluarga Chen yang tinggal di Ping Yuan. Fuxiong mempelajari beberapa buku seperti geografi, navigasi dan ia cukup suka berburu dengan menggunakan senjata panah.

Ia dengan kakek dari Zhang Fei Yide memiliki ikatan persahabatan yang cukup erat sehingga ketika mendengar cucu dari sahabatnya itu terkatung-katung nasibnya di Chang Ban, ia terpikir untuk mempersiapkan bantuan bagi sahabatnya. Namun sayangnya ia tidak mengerti militerisme dan ilmu perang karena yang dipelajarinya selama ini adalah demi kepentingan bisnis.

Demikian pula dengan putra-putranya, Chen Yuan, Chen Qiong dan Chen Ming.

Chen Yuan adalah petani yang memiliki naluri bisnis tidak kalah dengan ayahnya. Ia bisa tampil pragmatik dengan wajah seperti orang kelelahan karena terlalu banyak membaca buku, namun tidak ada yang menyangka manipulasi apa yang sedang dipersiapkannya.

Ketika Zhang Jingai kabur dari kediaman ayahnya, Zhang Fei, ia teringat akan teman ayahnya di Ping Yuan dari keluarga Chen dan menghampirinya. Mengetahui apa yang menimpa Zhang Jingai, Chen Fuxiong pun tidak berpikir panjang segera memikirkan cara untuk menolongnya.

Chen Yuan diam saja tanpa mengeluarkan satu opinipun. Dirinya malah sibuk membaca buku tentang filosofi musiman yang diamati oleh seorang penyair lokal yang namanya tidak terlalu terkenal.

Sementara itu Chen Qiong sangat berantusias karena dirinya menganggap bahwa ini kesempatan emas untuk berlaga di medan perang. Chen Qiong sangat bermimpi untuk bisa menjadi jendral besar yang bertarung di sisi Lu Bu, seorang bandit lokal yang tinggal di sekitar Xia Pi, tidak jauh dari Ping Yuan. Bagi orang-orang, Lu Bu adalah bandit, namun bagi Chen Qiong, Lu Bu lebih dari seorang pahlawan.

Jendral di bawah kekuasaan Yuan Shao itu sudah lama ingin berontak lepas dari pengaruh Yuan Shao yang menurutnya sangat selektif dalam memilih orang kepercayaan. Bahkan setelah menjadi Jendral pun dirinya tidak diberi posisi yang lebih penting dari sekadar Jendral pengurus distribusi jalur ransum. Betapa gatalnya Chen Qiong untuk mendemonstrasikan bakat yang ia percaya dimilikinya.

Namun rupanya Chen Qiong terlalu bersemangat mengutarakan pendapatnya sehingga justru ia mengatur segala hal, mulai dari merekrut pasukan, memilih orang berbakat, bahkan cara-cara latihan khusus bagi pasukan mereka.

Mengetahui putera keduanya hanya memikirkan perang tanpa memikirkan sedikitpun tentang nasib rakyat dalam efeknya bila perang berkepanjangan, Chen Fuxiong menjadi kesal dan membentaknya, "Jangan mentang-mentang karena kau kita bisa berdiri sendiri dari pengaruh Yuan Shao, lantas aku membiarkanmu mengacak-acak semuanya! Kau masih harus belajar lebih banyak lagi, bodoh!"

Saat itu Chen Fuxiong sedang dalam perasaan kesal karena putera sulungnya, Chen Yuan, pergi berpisah dengan keluarga besarnya karena tidak mau ikut-ikutan dengan apa yang ia sebut dengan "aksi meminta dibantai" yang dilakukan secara bodoh oleh Chen Qiong. Ia tidak mengerti bahwa yang dikatakannya sungguh membuat Chen Qiong merasa tersinggung bukan main. Terlebih saat urusan administrasi diserahkan pada Chen Ming, adik bungsunya yang selama ini dinilainya sangat tidak becus melakukan apapun.

Keadaan ini akhirnya dimanfaatkan oleh Lu Bu yang telah mendengar sedikit banyak tentang Chen Qiong dari Chen Gong, salah seorang penasihat utamanya. Si bandit pun tertarik untuk memanggil Chen Qiong agar berpaling padanya. Utusan didatangkan dan Chen Qiong tanpa banyak berpikir lagi segera mengemasi barangnya untuk pindah ke Xia Pi.

Chen Qiong mengajak serta anaknya, Chen Yang dan Chen Liu. Namun Chen Yang tidak menyukai Lu Bu karena takut akan cerita-cerita mengenai kekejamannya, sementara Chen Liu malah membujuk agar ayahnya tidak mengkhianati kakeknya.

"Kalian anak-anak bodoh! Aku tidak mengerti dengan jalan pikiran kalian. Semoga kalian tidak mati terbantai oleh pasukan Yuan Shao, bila kita suatu saat bertemu di medan perang, jangan ragu untuk mengacungkan senjatamu, dalam lapangan perang, tidak ada ikatan apapun antara dua musuh." ucap Chen Qiong dengan kesalnya.

Sementara itu, Chen Ming yang sesungguhnya sangat ketakutan, jadi tidak bisa tidur selama tiga hari karena ia telah mendengar bahwa dalam waktu dekat, Yuan Shao akan membawa 20.000 orang pasukannya untuk menyerang Ping Yuan.

"Aku tidak pernah mengharapkan ini semua. Aku hanya ingin hidup sebagai rakyat biasa yang tidak perlu pusing akan urusan politik ataupun perang! Tapi ayahku sudah cukup kecewa atas kepergian Yuan dan Qiong, kalau aku pergi juga, aku takut terkena karma buruk..." demikian pikir Chen Ming dalam rasa takut dan cemas.

Melihat garis hitam di bawah mata ayahnya dan betapa lesu wajah ayahnya, seakan beliau telah menua sepuluh tahun hanya dalam waktu tiga hari saja, Chen Wan, putra sulung Chen Ming akhirnya mengajaknya bicara.

"Saya melihat ada ember yang sudah penuh oleh air. Saya khawatir bila ia meluap, maka akan mengotori lantai dan membuat sekitarnya jadi berantakan." kata Chen Wan.

"Jangan bicara puitis padaku, mentang-mentang kau penyair seperti ibumu. Aku tidak mengerti. Lebih baik kau mengobrol dengan bulan saja." kata Chen Ming sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Baiklah." Chen Wan menghela nafas. "Ayah tidak tidur tiga hari ini, posisi ayah cukup penting, anakmu ini sudah tiga puluh tahun lebih usianya, dan sekiranya sudah cukup pantas untuk dipercaya kata-kata dan kebijaksanaannya."

Namun lagi-lagi relasi buruk akibat emosi antara ayah-anak kembali terjadi dalam keluarga Chen. Chen Ming yang sedang pusing menghardik anaknya. "Halah kau hanya penyair gagal. Bila ayah dan kakekmu bukan dari keluarga kaya, kau sudah tentu makan cacing dan minum air cucian setiap hari. Justru karena kau sudah tiga puluh tahun lebih tapi belum berkeluarga dan bekerja tetap, aku tidak mau mendengar ucapanmu! Siapa ibu dari anakmu pun kau tidak tahu, sungguh memalukan."

Tersinggung atas ucapan ayahnya, Chen Wan hanya berlalu pergi begitu saja dari ruang kerja ayahnya di istana.

Kejadian itu terdengar oleh Zhang Jingai. Ia telah mendengar sedikit banyak tentang Chen Wan. Lelaki itu bukanlah lelaki yang teratur dan hidup seperti orang biasa. Orang menyebutnya pemalas, tidak berguna, seenaknya, dan tidak memiliki masa depan. Namun ada perasaan kuat yang barangkali timbul dari kesan pertama kala mereka berkenalan, Zhang Jingai yakin bahwa Chen Wan tidak seperti yang dikatakan keluarga besarnya terhadapnya selama ini.

Di tepian danau, Zhang Jingai mengintip Chen Wan sedang mencorat-coret sesuatu dari balik pohon. Apa yang kira-kira sedang ditulisnya? Apakah ia sedang mengungkapkan rasa tersinggungnya melalui karya tulis? Puisi? Baiklah bila ia memang tidak berdaya melakukan apapun selain puisi, Zhang Jingai ingin menghibur paman ini dengan memuji karyanya.

"Paman Chen?" tegurnya dengan halus.

Chen Wan dengan sigap menoleh ke sumber suara. Ketika dilihatnya sang pemimpin Ping Yuan yang menghampirinya, ia segera menundukkan kepala dan mengangkat kedua tangannya untuk memberi hormat. "Salam, Nona Zhang. Bukankah ini sore hari yang buruk untuk berjalan-jalan santai? Maksudku dengan ancaman dari Nan Pi yang akan segera tiba dalam waktu dekat."

"Aku sudah cukup banyak membuang waktuku untuk memikirkan hal itu, bukankah ember yang hampir penuh butuh tadah tambahan agar tidak mengotori lantai di sekitarnya?" tanya Zhang Jingai.

Mendengar itu, kedua pipi Chen Wan bersemu merah dan tengkuknya menghangat. Ada sebuah celetuk tawa kecil yang dikeluarkan seakan ia ingin melegakan diri. "Ah ... maaf anda harus mendengar percakapan itu."

"Paman Wan, kau sedang menulis apa?"

"Ini hanya coret-coretan tidak berarti. Barangkali ketika saatnya ia dilihat, semua sudah terlambat." kata Chen Wan sambil menampilkan ironi yang dirasakannya melalui ekspresi wajahnya. Ia menyembunyikan kedua tangannya yang sedang memegang catatan itu di balik punggungnya.

"Maka dari itu, aku ingin melihatnya." kata Zhang Jingai sekali lagi dengan sopan.

Chen Wan pun menyerahkan kertas itu.

Zhang Jingai berharap akan menemukan rangkaian kata yang tersusun indah dalam beberapa pragraf. Ia berharap akan melihat setumpuk kosa kata cerdas dan puitis yang mampu menyentuh hati mereka yang sensitif dan bisa menghargai karya seni.

Namun ia menemukan sebuah rancangan. Desain. Lebih dari itu ... strategi perang.

Jumat, 02 September 2011

Legend of Shu - Empress Zhang Jingai

Chapter Rise of the Heroes, Jauh dari regangnya wilayah selatan, di utara ada sebuah daerah bernama Ping Yuan. Tidak seberapa jauh dari Nanpi yang dihuni oleh pasukan Yuan Shao, dan hanya menyeberangi sungai kecil dari Timur Ye yang diduduki penguasa bernama Hu Fan. Di selatan terdapat sungai besar yang mengalir memisahkan desa Gu Tong dengan Du Qiu yang dikuasai oleh sekelompok pemberontak Yellow Turban.

Zhang Jingai adalah putri dari Zhang Fei, jendral Liu Bei yang kini bermukim jauh di Jiang Ling, provinsi Jing. Sebelumnya, ia mendengar kabar di utara sedang terjadi kekacauan yang diakibatkan oleh ambisi Yuan Shao untuk menguasai seluruh propinsi di utara. Itu adalah tanah kelahiran sang ayah dan ia ingin menyelamatkannya. Namun terjadi perselisihan pendapat sehingga membuat Zhang Jingai diusir dari rumahnya di usianya yang ke 17.

Jingai tidak menyerah, ia bertemu dengan Chen Fuxiong, seorang pedagang kaya yang pernah berhutang nyawa pada Zhang Fei. Mendengar kesulitan Jingai, Fuxiong yang tinggal di Ping Yuan menyuruh anak-anaknya berkumpul untuk membantu.

Sementara ini Ping Yuan akhirnya diduduki oleh Jingai. Namun itu belum cukup. Jingai berdoa pada langit, memohon petunjuk. Ia merasa yakin bahwa ia mendapat wangsit untuk menguasai seluruh tiongkok dan dialah orang yang tepat, dimulai dari wilayah utara yang cukup padat.

Langit mendengar doa nya. Muncullah kaisar Qin Shih-Huang, alias Ying Zheng yang membawa serta para pahlawan dari seluruh zaman seperti Chen Zhengong, Lu Shang, Sun Bin, Guan Yiwu hingga Zhang Liang. Kini Ping Yuan penuh sesak dan Jingai berterima kasih pada langit. Setelah memberikan persembahan sebagai rasa terima kasih dan syukurnya, Jingai pun memulai penakhlukkannya atas Tiongkok.