"Mengangkat Wan menjadi Jendral perang atas 6000 pasukan? Mau dibawa hancur tempat ini, rupanya." Chen Bao menggeleng-gelengkan kepalanya, tidak habis pikir bagaimana mungkin bocah yang semasa kecilnya banyak bicara namun tidak bisa melakukan apapun itu mendadak dijadikan jendral perang pasukan vanguard untuk menghadapi serangan Yuan Shao yang akan datang beberapa hari lagi.
"Wan itu kebanyakan berkhayal. Usianya sudah tiga puluh tahun lebih tapi jiwanya tidak lebih dewasa daripada Shan." Chen Hong menyebut putra sulungnya yang akan berusia 15 tahun bulan depan.
Chen Bao tertawa kecil. "Benar. Dia cuma suka corat coret, dia bilang demi seni. Halah .. tulisannya juga tidak jelas sedang bercerita apa. Pertama dia membicarakan awan, berikutnya dia membicarakan kambing. Dan dia berani menyebut diri seniman."
Walau demikian, tak ada dari kedua bersaudara itu yang berniat untuk protes langsung pada Nona Zhang.
"Sudah, biarkan sajalah. Ada baiknya kita persiapkan beberapa upeti untuk Yuan Shao sehingga nanti bila Ping Yuan sudah jatuh ke tangannya, bisnis kita tetap aman. Lagipula aku tidak pernah berniat dengan urusan peperangan ini. Aku bahkan tidak mengerti apa untungnya berperang." ucap Chen Hong.
Lain dengan kedua Chen bersaudara anak Chen Yuan, kedua putera Chen Qiong juga sedang membicarakan masalah yang sama. Kali ini kedua bersaudara itu sedang memancing di tepi sungai.
"Biar kupersingkat. Berarti Wan mendapatkan jabatan pasukan vanguard dan taktiknya dipakai untuk peperangan menghadapi Yuan Shao, sedangkan kau hanya menjadi kapten di bawah kepemimpinannya?" Chen Yang tampak tidak percaya pada apa yang baru saja ia simpulkan sendiri.
Segurat optimisme yang terkesan pahit terulas di wajah Chen Liu. "Bukan begitu, aku jendralnya, dia yang jadi penasihatku."
Mengetahui posisi adiknya lebih berwenang daripada saudara sepupu mereka, Chen Yang mengangguk-angguk dengan wajah senang. "Cukup masuk akal, tapi juga masih ada yang tidak masuk akal."
"Apa itu?"
"Setahuku Wan itu bodoh. Dia bahkan tidak tahu ada orang bernama Sun Bin hidup di dunia ini. Bukankah sehari-hari ketika kita sibuk berlatih dan belajar, dia sibuk mabuk dan bermain-main menghabiskan uang ayahnya? Bagaimana mungkin Nona Zhang mempercayai orang seperti itu?" Chen Yang kini merasa khawatir.
"Kakak tak usah bingung. Nona Zhang bermaksud untuk membuat Wan terlihat berguna sedikit. Maka dari itu ia mengangkatnya menjadi penasihat pasukan vanguard di bawah komandoku." Chen Liu tertawa.
"Kudengar Rui sudah protes?"
"Pendapatnya sama sekali tidak didengar Nona Zhang. Aku mulai merasa ayah mengambil langkah tepat..."
Chen Yang tidak sependapat. "Jadi maksudmu menjadi anak buah seorang bandit tak tahu diri lebih tepat daripada menjadi anak buah seorang gadis 17 tahun yang kabur dari rumah ayahnya?"
"Nona Zhang itu tegas." Bela Chen Liu dengan suara agak pelan.
"Yah, kita lihat saja besok. Mungkin malam ini kita minum-minum saja, dik. Aku tidak yakin akan nasibmu di kemudian hari hahaha..." Chen Yang tertawa keras.
"Hei! Aku ini bukan jendral sembarangan! Tak mungkin aku tewas dalam perang!"
Lain bagi anak-anak Chen Yuan dan Chen Qiong, Chen Ming malam itu menghampiri putranya dan menegurnya untuk mundur demi keselamatan pasukan mereka.
"Maaf, saya tidak mendapati ada alasan logis tentang harus mundur dari jabatan itu hanya karena saya seorang penyair." Chen Wan menggeleng, berusaha menyampaikan sanggahannya dengan tegar.
Chen Ming bersama istrinya, Liu Yuen, masih bersikeras menegur putra mereka. "Wan, bagaimana mungkin seorang pria yang sudah cukup dewasa namun masih hidup dibiayai kedua orangtuanya sendiri, mampu memimpin 6000 orang pasukan menghadapi jendral besar seperti Yuan Shao?!"
Walau sang ibu memiliki visi lain dari bujukannya, "Nak, jangan berperang, apa kamu sanggup? Nanti kamu bisa dipenggal musuh bila kamu sampai tertangkap."
Tertekan dengan ketidakpercayaan kedua orangtuanya, Chen Wan marah dan menghunus pedang, membelah sebuah kursi. "Sejak aku kecil kalian selalu melakukan segala hal untukku! Menyatakan bahwa aku takkan bisa melakukan ini, takut aku salah melakukan itu! Tidak hanya itu, kalian melarangku belajar bela diri atau masuk militer karena sangsi bahwa dalam darahku tidak mengalir darah prajurit gagah seperti paman Qiong! Kalian juga melarangku terlibat politik dan memaksaku menjadi orang biasa! Apa bila sampai ada sesuatu yang kalian wariskan padaku, itu hanyalah sakit hati dan pengekangan!"
Chen Wan melempar pedangnya ke atas lantai dan mengemasi barang-barangnya. Ia masuk ke dalam kamar puteranya, Chen Shao. Awalnya ia hanya bermaksud mengintip puteranya, ia yakin dia sedang tidur. Namun dilihatnya bocah itu sedang berdiri di ambang pintu. Rupanya sejak tadi ia sedang terdiam menyaksikan keributan di ruang tengah.
"Maaf kau harus melihat itu." Chen Wan menggaruk-garukan pelipisnya dengan rasa malu. Kemudian ia berjongkok di hadapan anak tunggalnya yang baru saja berulang tahun ke tiga belas beberapa bulan lalu.
"Lekas kemasi barang-barangmu, kau akan ikut ayah pergi." perintah Chen Wan. Ia tidak mungkin mau menyerahkan anaknya dibesarkan oleh dua orang yang membesarkannya dengan cara memaksanya menjadi orang biasa, sementara ia ingin melakukan banyak hal yang luar biasa. Chen Wan pada dasarnya adalah anak yang patuh dan hatinya cenderung plin-plan. Ia hanya menuruti segala yang difilosofikan ayah padanya. Beranjak dewasa, ia mulai menyadari bahwa sesungguhnya dia bisa meraih banyak hal. Seharusnya ia bisa menjadi siapapun yang ia inginkan.
"Wan, kau hanya orang biasa. Ingat itu." demikian nasihat ayah padanya, selalu.
Sementara Chen Wan yakin bahwa dirinya manusia hebat, ia juga percaya putranya jauh lebih istimewa daripada dirinya sendiri. Ia takkan mau potensi anaknya menguap hanya karena dididik sebagai orang biasa.
Ketika Chen Shao mengemasi barang-barang daruratnya saja. Ia meninggalkan semua pernak-pernik, mainan, dan patung-patung yang ia sukai. Ia hanya membawa beberapa setel pakaian dan uang. Ayah dan anak itu kadang suka sekali berplesir memanjat ke puncak gunung hanya untuk menikmati keindahan matahari terbit. Tapi tentu saja, keberangkatan mereka akan menemui kegagalan apabila sampai Chen Ming tahu.
"Nak, jangan memanjat gunung. Nanti kamu jatuh dan mati di jurang, kita semua tidak ada yang tahu dan harus membuang waktu mencari mayatmu. Tidakkah kau pikirkan perasaan kedua orangtuamu?" demikian keluh Chen Ming dengan wajah susah setiap kali Chen Wan hendak memanjat gunung atau pergi berkuda untuk melihat daerah baru.
Chen Wan baru mulai memberontak melawan perintah ayahnya sejak ia berusia 23 tahun. Ketika itu ia telah menjadi seorang yang benar-benar kehilangan semangat hidup. Hanya tinggal di rumah, menghirup teh, bermain musik dan menulis sajak. Tidak berguna. Ia menuruti setiap perintah ayahnya, namun pada akhirnya tetap saja mereka menyebutnya anak tidak berbakti.
Melihat Chen Wan dan puteranya menggedong buntalan di punggung mereka dan bersiap pergi, Liu Yuen, sang ibu menjadi panik dan menangis, sibuk berusaha membujuk agar puteranya tidak pergi.
"Jangan kau pergi! Memangnya kau bisa hidup sendirian di luar sana? Di luar sana ada banyak bandit, maling dan rampok! Bagaimana bila kau dirampok dan dibunuh? Apakah kau tidak pernah memikirkan perasaan kedua orangtuamu dari tindakan yang kau lakukan?" tegur Chen Ming.
"Tidak, kali ini aku harus pergi. Aku tidak bisa tinggal satu atap dengan kalian." kata Chen Wan dengan wajah pedih yang tegar.
Mendadak terdengar suara lengkingan menggelegar. "Brengsek! Apa yang kau lakukan sekarang ini ha?"
Itu adalah Chen Rui, adik Chen Wan. Ia adalah seorang pelajar muda yang saat ini telah bekerja di bengkel pusat persenjataan atas rekomendasi kakek mereka, Chen Fuxiong. Prestasinya belum terlihat sekarang, namun orang ini sangat tekun dan rajin. Tentunya ia juga menuntut orang lain menjadi sama tekun dan rajin seperti dirinya.
"Kenapa kau selalu membuat kedua orangtuamu susah!? Kau ini sungguh anak tidak berbakti, hanya bisa merepotkan! Parasit! Belum puas sudah membuat kami sekeluarga malu atas perbuatanmu? Belum lagi anak itu!" Chen Rui menunjuk keponakannya.
"Bukan aku yang melahirkan dia, kok, kenapa aku harus malu?" Chen Wan masih sempat bergurau dengan wajah serius.
"Bangsat kau, pergi dari rumah ini!! Bikin malu saja!" bentaknya dengan gagah.
Chen Wan merasa sangat senang. Tanpa bicara lagi, ia buru-buru pergi meninggalkan rumah ayahnya diikuti anaknya, Shao.
"Ayah, sekarang kita tinggal dimana?" tanya Chen Shao.
Senyum gagah terlihat di wajah Chen Wan yang pipinya berlesung. Ia mengusap kepala anaknya seraya berkata, "Kita ini lelaki bebas, Shao. Langit adalah atap kita, dan bumi adalah peraduan kita."